Minggu, 24 November 2013

RESUME (Softskill) #3

Resume Kelompok 3 : Proses yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan dalam Organisasi


           Banyak sekali pendapat yang mengemukakan pengertian pengambilan keputusan tetapi tetap memiliki maksud dan arti yang sama. Jadi pengambilan keputusan adalah menilai, mengambil ataupun memilih  diantara dua atau lebih alternative keputusan yang memungkinkan. Dalam memilih alternative harus melihat resiko negatif paling kecil, sehingga dampak yang di timbulkan tidak merugikan organisasi pada khususnya dan tidak merugikan pihak-pihak lain pada umumnya. Begitupun apabila dalam organisasi terjadi masalah dan salah dalam pengambilan keputusannya maka dapat berdampak buruk pada organisasi itu sendiri.
Langkah proses pengambilan keputusan dibagi menjadi:


1.      Identifikasi pemecahan masalah : proses pemecahan masalah yang menghalangi atau menghambat tercapainya tujuan.

2.      Mencari alternatif pemecahan : dilakukan pencarian terhadap alternatif-alternatif yang mungkin dapat memecahan masalah yang dihadapi.

3.      Memilih alternatif : memilih alternatif pengambilan keputusan yang dapat memberikan manfaat, dalam arti dapat memecahkan masalah.

4.      Pelaksanaan alternatif : melakukan tindakan yang telah di putuskan.

5.      Evaluasi : jika alternatif telah dilaksanakan maka harus tetap diamati.

Ada dua tujuan dalam pengambilan keputusan, yaitu:

1.      Tujuan bersifat tunggal : terjadi apabila keputusan yang dihasilkan hanya menyangkut satu masalah.

2.      Tujuan bersifat ganda : terjadi apabila keputusan yang dihasilkan menyangkut lebih dari satu masalah.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan diantarnya faktor fisik, emosional, rasional praktikal, interpersonal dan struktural. Keputusan dapat diambil dengan cara individu dan kelompok, individu contohnya pemgambilan keputusan yang diambil oleh presiden tanpa rapat kerja atau diskusi. Sedangkan kelompok merupakan pengambilan keputusan yang prosesnya melalui hasil dari rapat atau diskusi bersama.
           
.           Jika pengambilan keputusan mengalami tingkat yang sudah sulit untuk diputuskan dimana sudah tidak ditemukan jalan untuk diadakannya sebuah musyawarah maka pada akhirnya diadakan atau dilakukan dengan cara voting. Voting tersebut adalah salah satu teknik dalam pengambilan keputusan. Arti voting itu sendiri adalah diambilnya keputusan yang paling banyak dipilih, misalnya dalam sebuah organisasi terjadi sebuah masalah dan tidak ditemukannya jalan keluar atau tidak bisa diadakannya musyawarah maka dilakukan sebuah voting untuk mengambil jalan keluar dari masalah tersebut yang dilakukan oleh para anggota dari organisasi tersebut.

Tahapan-tahapan untuk mengambil keputusan adalah mencari reverensi, mengevaluasi ataupun menganalisis sampai akhirnya diambil sebuah keputusan yang benar-benar sudah dipikirkan secara matang.  Proses yang mempengaruhi pengambilan keputusan adalah adanya pengaruh tekanan dari luar,  adanya pengaruh dari sifat-sifat pribadi,  adanya pengaruh dari kelompok-kelompok lain,  adanya pengalaman. 

Dengan cara melakukan proses di atas, pengambilan keputusan dalam organisasi akan berjalan dengan baik dan akan menghasilkan yang baik pula.

Contoh pengambilan keputusan dalam organisasi :

Pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan mutu sekolah dalam rangka pendidikan nasional. Esensi dari MPMBS adalah otonomi sekolah dan pengambilan keputusan partisipatif untuk mencapai sasaran mutu sekolah (Depdiknas, 2000). Otonomi dalam si … keputusan untuk memenuhi kebutuhan mutu sekolah dalam rangka pendidikan nasional. Esensi dari MPMBS adalah otonomi sekolah dan pengambilan keputusan partisipatif untuk mencapai sasaran mutu sekolah (Depdiknas, 2000).Otonomi dalam sistem dan pen … organisasi. Begitu juga dalam organisasi kependidikan, keputusan pendidikan merupakan faktor esensial dalam menentukan kebijakan-kebijakan pendidikan. Oleh karena itu sebuah keputusan pendidikan perlu ditentukan melalui proses pengambilan keputusan.

Dalam era desentralisasi, sekolah memiliki otonomi yang seluas-luasnya yang menuntut peran serta masyarakat secara optimal. Bentuk nyata dari otonomi pendidikan dan otonomi sekolah adalah manajemen berbasis sekolah.Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) atau School Based Management merupakan pengkoordinasian dan penyerasian sumber daya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan semua kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah (stakeholders) secara langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan mutu sekolah dalam rangka pendidikan nasional. Esensi dari MPMBS adalah otonomi sekolah dan pengambilan keputusan partisipatif untuk mencapai sasaran mutu sekolah (Depdiknas, 2000).Otonomi dalam sistem dan pengelolaan pendidikan bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat (Caldwell dan Spinks, 1992). Konsep ini merupakan suatu bentuk pengelolaan sekolah yang menjamin sekolah memiliki otonomi yang luas dalam mengelola pembelajaran, sumber dayanya, menentukan kebijakan yang sesuai dengan keinginan lembaga dan masyarakat, serta dalam pengelolaannya melibatkan orang tua dan masyarakat, dan tidak mengabaikan kebijakan nasional. Melalui kebijakan ini, pihak sekolah memiliki keleluasaan dalam pengambilan keputusan tentang pengelolaan sumber daya, kurikulum, dan peningkatan profesionalisme guru dan staf. Hal ini tentu menuntut keleluasaan guru dan karyawan dalam berapresiasi dan berinovasi sesuai dengan kondisi lingkungan yang ada, tanpa harus terikat dengan aturan-aturan kurikulum yang ketat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar